“Ketika waktu pagi tiba, janganlah menunggu sampai sore. Hiduplah dalam batasan hari ini. Kerahkan seluruh semangat yang ada untuk menjadi lebih baik di hari ini.” (Dr. Aidh al Qarni)
Posted by : Unknown Sabtu, 27 April 2013


Untuk mencapai kebahagiaan, lebih baik membatasi keinginan daripada memanjakannya.
“… Janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, niscaya ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah…” (Sh√Ęd: 26).
Kebutuhan dan keinginan adalah dua hal yang berbeda. Makan, bisa dikatakan sebagai sebuah kebutuhan. Tapi makan dengan kemewahan, makan di rumah makan kelas atas, maka kebutuhan itu berubah menjadi keinginan.
Rumah adalah kebutuhan, tapi memiliki rumah mewah dengan beragam fasilitas yang wah, maka kebutuhan tersebut sudah menjadi keinginan.
Kendaraan, motor atau mobil misalnya adalah kebutuhan, tapi ketika ingin memiliki motor dan mobil yang lain, yang lebih bagus, atau sekedar mengkoleksi, maka bisa dikategorikan itu bukan kebutuhan, melainkan keinginan.
Tentu saja, setiap orang tidak bisa digeneralisir seperti demikian adanya. Setiap orang, setiap manusia, mungkin saja memiliki kategorisasi kebutuhan dan keinginan yang berbeda.
Misalnya, bisa jadi, seseorang memang harus makan di rumah makan nan mewah untuk urusan negosiasi dan transaksi bisnis. Hanya, manusia sebagai mahkluk yang dilengkapi oleh nafsu, tentu akan selalu ada keinginan-keinginan di samping ‘kebutuhan-kebutuhan standarnya’ sebagai manusia normal.
Ada nasihat bijak seputar kebahagiaan dan ketenangan, bahwa kebahagiaan dan ketenangan bisa diraih bukan dengan simbol-simbol keduniawian; Rumah, kendaraan, kedudukan, jabatan, uang, dan harta pada umumnya. Tapi ia teraih lewat kefitrian batin, kesucian jiwa, dalam memegang kendali amanah yang diberikan Allah.

Akan percuma harta yang teraih lewat cara-cara yang kotor, karena hanya akan menimbulkan penderitaan sesudahnya.
Akan sia-sia kedudukan yang diraih lewat cara-cara yang kotor, karena hanya akan membuahkan ketidaktenangan di ujungnya. Kekurangan yang diterima apa adanya dan kondisi hidup yang disyukuri, akan lebih menjanjikan ketenangan dan kebahagiaan.
Kiranya yang demikianlah yang dinamakan zikir, bahwa apapun yang kita lakukan kita ingat ada Dia Yang Mengawasi. Dan apapun yang nikmati, kita ingat bahwa dari Dialah semua hal kita dapatkan dan karenanya kita tidak menjadi sombong dan lupa diri.
Orang-orang mu’min meraih kebahagiaan dengan mengingat Allah. “Orang-orang yang beriman, hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah..” (ar Ra’du: 28). Sumber

    Leave a Reply

    Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

    Arsip Blog

    Flash tag cloud requires

    - Copyright © Newbie -Metrominimalist- Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -